Tag

, , , , ,

“Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, itu salah satu sumpah yang diucapkan dalam kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Suatu ikrar yang merupakan penegasan dan sumpah kesetiaan terhadap Indonesia.

Sangat dalam sekali makna dari sumpah tersebut, pemuda-pemudi dikala itu yang berlatar belakang penjajahan, sangat berani menunjukkan kekuatan dan kesamaan tekad yang dimiliki. Itulah potret kepemudaan waktu itu.

Beralih sekarang menjelang tanggal 28 Oktober, segalanya sudah berubah, dimana kemerdekaan dari penjajahan telah berakhir. Banyak calon penerus bangsa ini terlena, terbuai dengan nikmatnya kemerdekaan semu. Kenapa kemerdekaan semu? jelas bahwa penjajahan bukan semata-mata perang senjata, tetapi lebih kepada ekspansi baru yang dilontarkan oleh sekelompok orang dengan maksud tertentu untuk mempengaruhi bahkan menguasai orang lain. Penjajahan sudah berubah semakin halus dalam wujud konsumerisme, penjajahan budaya, dan masih banyak yang lainnya. Sadarkah kalian wahai pemuda..!

Terbuai dalam narkoba, terikat dengan mode, tergantung pada barang asing ,wah…sangat memprihatinkan. Menunjukkan lemahnya kemandirian serta kebanggan kita terhadap diri sendiri.Hal ini merupakan ancaman laten yang lebih berbahaya dibandingkan perang sekalipun. Mari kita aktualisasikan bersama, sumpah yang telah terucap hampir 83 tahun yang lalu.  Bagaimana caranya? Kita mulai dari kebanggan terhadap bahasa kita, produk otentik karya anak negeri… BAHASA INDONESIA! Merdeka !

About these ads